INALILLAHI WA 'INALILLAHOHI ROJI'UN
KELUARGA BESAR YAYASAN KHARISMAWITA SMK KHARISMAWITA 2 TURUT BERDUKA CITA ATAS BERPULANGNYA KE RAHMATULLOH " IBU Hj. LILIANINGSIH SAPUTRA" GURU BAHASA MANDARIN SMK KHARISMAWITA 2.
SEMOGA ALMARHUMAH DITERIMA DISISINYA, AMIEN.
Sabtu, 27 April 2013
Jumat, 25 Januari 2013
RSBI DIBUBARKAN MA, MENTERI PENDIDIKAN PASRAH
RSBI DIBUBARKAN MA, MENTERI PENDIDIKAN PASRAH
Rabu, 9 Januari 2013 07:42:29 - oleh : masekoww
Jakarta - Majelis hakim Mahkamah Konstitusi (MK) membatalkan peraturan pengadaan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional
(RSBI) yang berada di sekolah-sekolah pemerintah. Menteri Pendidikan
Muhammad Nuh menyatakan menghargai apapun keputusan MK.
"Tadi
sudah diputuskan. Meski saya belum bisa mendapatkan putusan utuhnya,
tapi apapun itu pemerintah sangat menghormati dan menghargai," kata Nuh
dalam konferensi persnya di Kantor Kemendikbud, Jl Jenderal Sudirman,
Jakarta, Selasa (8/1/2013).
Nuh menyatakan bahwa dulunya RSBI
digagas dalam Undang-undang Sisdiknas Tahun 2003 dalam suasana semangat
reformasi. Waktu itu harga diri bangsa sedang terpuruk dan ingin bangkit
sejajar dengan bangsa lainnya.
Pemerintah-pun melaksanakan RSBI pada masa selanjutnya. Akhirnya, RSBI sekarang dibubarkan oleh MK. Meski begitu, Kemendikbudlegowo menerima keputusan MK.
"Pemerintah tidak merasa kalah menang. Tinggal menjankan saja. Monggo kalau nggak boleh ada RSBI," ujar Nuh.
MK
menghapuskan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang berada
di sekolah-sekolah pemerintah. MK memutuskan RSBI bertentangan dengan
UUD 1945 dan bentuk liberalisasi pendidikan.
Sebelumnya juga
diberitakan, para orang tua murid dan aktivis pendidikan menguji pasal
50 ayat (3) UU Sisdiknas karena tak bisa mengakses satuan pendidikan
RSBI/SBI ini lantaran biayanya yang mahal.(sumber: detik.com)
kirim ke teman | versi cetak | Versi PD
Kamis, 18 Oktober 2012
BEBAN KERJA GURU 24 JAM PER MINGGU
Sertifikasi dan Pemenuhan 24 Jam Tatap Muka
(SERTIFIKASI DAN TUNTUTAN PEMENUHAN 24 JAM TATAP MUKA SERTA SULITNYA NAIK PANGKAT) Oleh: Dra. Sunarti
Akan tetapi tidak semua guru berada pada kondisi ideal dengan beban mengajar minimal 24 jam tatap muka per minggu. Hal itu sering terjadi dikarenakan di sekolah tersebut terdapat beberapa guru yang mengampu mata pelajaran sejenis dan menyebabkan guru harus berbagi dengan rekan guru yang lain. Atau memang porsi jam pelajaran tersebut tidak mencukupi, sebagai contoh guru PKN yang mengajar di sebuah sekolah dengan 3 kelas paralel atau 9 kelas dalam satu sekolah, jatah mengajarnya dalam struktur KTSP hanya 2 jam pelajaran x 9 kelas = 18 jam, maka guru tersebut masih kurang 6 jam pelajaran, bagaimana bila ada lebih dari satu guru mata pelajaran yang sama?, dan kondisi ini riil terjadi di lapangan. Demi perjuangan untuk memenuhi beban mengajar 24 jam per minggu ini, banyak guru yang lantas mencari tambahan mengajar di sekolah lain baik sekolah yang levelnya sama maupun tidak sama. Banyak guru SMA menambah jam mengajar di SMP atau bahkan di SD. Permasalahan baru dari keadaan ini adalah kesulitan membagi waktu. Ketika sekolah induk maupun sekolah tambahan tempat guru memenuhi beban 24 jam tatap muka menuntut seorang guru untuk total dalam mengajar dan mengabdi di sana.
Sekolah induk maupun sekolah tambahan tidak mau dinomorduakan, padahal tugas seorang guru bukan hanya mengajar, guru juga harus ikut terjun dan berpartisipasi dalam setiap kegiatan yang ada di sekolah. Bagaimana jadinya bila dalam saat bersamaan harus menghadiri kegiatan di dua sekolah berbeda?. Belum lagi pandangan dan pemikiran yang berkembang di masyarakat ketika melihat kesejahteraan guru yang bukan lagi seperti sosok “oemar bakri”, sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Iwan Fals yang menggambarkan seorang guru, dengan sepeda kumbangnya dan dengan keadaan yang serba memprihatinkan . Guru hari ini mendapat kesejahteraan yang lebih dengan berbagai tunjangan termasuk program sertifikasi guru. Pihak non-guru merasa iri dan seakan tidak adil. Mereka mengatakan, guru mendapat sertifikasi, dan mendapat libur lebih. Pandangan seperti itu adalah salah. Pekerjaan seorang guru, bukan hanya duduk, bukan hanya mengajar dan atau mendidik, tapi setumpuk pekerjaan yang harus dibawa pulang seusai mengajar. Bayangkan dengan aturan jam tatap muka minimal 24 jam per minggu, maka bagi yang memiliki jam mata pelajaran bidang studi hanya 2 jam per minggu, maka guru tersebut harus manghadapi 12 kelas, jika satu kelas terdiri dari 25 siswa, maka per minggu guru tersebut akan menghadapi/mengurusi 300 siswa. Coba bayangkan jika satu minggu 12 kelas ini masing-masing diberi soal evaluasi 5 nomor saja dengan model pemeriksaan hasil jawaban sistem bobot, maka guru tersebut akan memeriksa/membaca/menganalisa 1500 soal dengan sistem bobot nilai, yang berdasarkan pengalaman, jika diperiksa dibutuhkan paling cepat 2 menit per nomor soal. Artinya dibutuhkan 3000 menit atau 2 hari lebih tiap minggunya hanya untuk memeriksa hasil evaluasi setiap pertemuan, belum tugas-tugas yang lain, bukankah guru yang baik harus menulis apa yang dilakukan dan melakukan apa yang ditulis. Contoh ini menegaskan bahwa keliru jika dikatakan pekerjaan guru adalah pekerjaan mudah, mendapat tunjangan tinggi dengan libur beruntun.
Pemenuhan jam wajib mengajar terkait erat dengan pengajuan PAK (yang baru) yang akan diberlakukan tahun 2013 nanti. Oleh karena hal tersebut, agar pengajuan PAK tidak terkendala, pihak sekolah harus sudah merancang dari sekarang agar jam wajib mengajar guru minimal 24 jam per minggu, mungkinkah?. Khusus untuk yang mendapat tugas tambahan, pemenuhan jam disesuaikan dengan PP 74 Tahun 2008. Pada Pedoman Penghitungan Beban Kerja Guru yang diterbitkan Dirjen PMPTK berkaitan dengan tugas tambahan guru dijelaskan sebagai berikut:
- Tugas sebagai Kepala Sekolah ekuivalen dengan 18 jam, sehingga minimal wajib mengajar 6 jam
- Tugas sebagai Wakil Kepala Sekolah ekuivalen dengan 12 jam, sehingga minimal wajib mengajar 12 jam
- Tugas sebagai Kepala Perpustakaan ekuivalen dengan 12 jam, sehingga minimal wajib mengajar 12 jam
- Tugas sebagai Kepala Laboratorium ekuivalen dengan 12 jam, sehingga minimal wajib mengajar 12 jam
- Tugas sebagai Ketua Jurusan Program Keahlian ekuivalen dengan 12 jam, sehingga minimal wajib mengajar 12 jam
- Tugas sebagai Kepala Bengkel ekuivalen dengan 12 jam, sehingga minimal wajib mengajar 12 jam
- Tugas sebagai Pembimbing Praktik Kerja Industri ekuivalen dengan 12 jam, sehingga minimal wajib mengajar 12 jam
- Tugas sebagai Kepala Unit Produksi ekuivalen dengan 12 jam, sehingga minimal wajib mengajar 12 jam
- Guru yang mengajar pada Kejar Paket A, B, atau C tidak bisa diperhitungkan jam mengajarnya
- Guru Mapel SMP (selain Penjasorkes dan Agama) tidak boleh mengajar di SD, karena guru SD pada dasarnya adalah guru kelas
- Penambahan jam pada struktur kurikulumpaling banyak 4 jam per minggu berdasarkan standar isi KTSP
- Program pengayaan atau remedial teaching tidak diperhitungkan jam mengajarnya
- Pembelajaran ekstrakurikuler tidak diperhitungkan jam mengajarnya, meskipun sesuai dengan sertifikasi mata pelajaran
- Pemecahan Rombel dari 1 kelas menjadi 2 kelas diperbolehkan, dengan syarat dalam 1 kelas jumlah siswa minimal 20
- Pembelajaran Team teaching tidak diperbolehkan kecuali untuk mata pelajaran Produktif di SMK
- Guru Bahasa Indonesia yang mengajar Bahasa Jawa, jam mengajar Bahasa Jawanya tidak diperhitungkan. Mata Pelajaran yang serumpun adalah IPA dan IPS dan hanya boleh untuk tingkat SMP
- Pengembangan diri siswa tidak diperhitungkan jam mengajarnya
Kesimpulannya, peraturan baru ini bisa saja akan semakin membuat guru terpacu untuk menyiapkan diri semaksimal mungkin. Atau, hal yang paling mencemaskan adalah muncul sikap apatis seorang guru yang mungkin saja selama ini terlanjur gembira karena bisa menikmati tunjangan sertifikasi dan fungsionalnya, kini berubah menjadi duka karena ternyata begitu sulitnya untuk urusan kenaikan pangkatnya. Artinya, banyak guru yang harus pasrah dengan pangkat yang disandangnya selama bertahun-tahun. Celakanya lagi, guru yang tidak dapat memenuhi kewajibannya dalam beberapa kurun waktu tertentu dalam pengumpulan angka kredit untuk kenaikan pangkatnya akan dikenakan sanksi berupa pencabutan tunjangan profesi serta tunjangan fungsionalnya. Karena setiap jenjang kenaikan harus memiliki nilai untuk ke penelitian.
Dalam urusan kenaikan pangkat bagi seorang guru telah mengalami perubahan yang sangat drastis dibandingkan dengan kenaikan pangkat tahun-tahun sebelumnya. Pengaturan kenaikan pangkat guru telah mengalami tiga fase. Fase pertama adalah kenaikan pangkat otomatis, yaitu dalam kurun 4 tahun sekali. Hal ini mirip dengan kenaikan pangkat pada jenjang struktural. Kenaikan pangkat tersebut kemudian diganti pemerintah dengan sistem perhitungan angka kredit karena apabila tetap diberlakukan, maka banyak guru yang akan dengan mudah pensiun pada golongan IVe. Fase selanjutnya adalah kenaikan pangkat yang menggunakan angka kredit kumulatif (sesuai dengan Permenpan Nomor 84/1993 dan Permendilnas Nomor 025 tahun 1995). Kenaikan pangkat ini lebih bersifat administratif karena besarnya poin angkat kredit lebih banyak ditunjukkan oleh prestasi kuantitas administrasi yang dihasilkannya, mulai dari kegiatan utama seorang guru seperti menyusun program pengajaran, menyajikan program pengajaran, melaksanakan evaluasi belajar, dan seterusnya. Kenaikan pangkat ini pada akhirnya diganti pemerintah karena disinyalir masih banyak guru yang hanya sekedar melengkapi bukti administrasi saja yang notabene dianggap fiktif. Fase ketiga adalah kenaikan pangkat guru yang menggunakan PKG (Penilaian Kinerja Guru), yang akan diberlakukan efektif mulai awal tahun 2013 nanti. Peraturan yang dimaksud adalah Praturan Menteri Pendidikan Nasional No. 35 tahun 2010, sebagai tindaklanjut dari Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. 16 tahun 2009.
- Jika Anda tidak keberatan, silakan berikan komentar Anda untuk artikel di atas.
- Karena kesibukan kerja, mohon maaf saya tidak bisa secara langsung merespon komentar Anda atau e-mail yang dikirim. Komentar dan email Anda akan saya respon sesegera mungkin.
- Subekti.Com terbuka untuk berkerja sama dengan siapapun, termasuk promosi.
© 2012, subekti.com. All rights reserved.
Selasa, 09 Oktober 2012
SEJARAH PERKEMBANGAN MATEMATIKA DI ARAB
sejarah perkembangan matematika
Sejarah perkembangan matematika versi barat!
Di dunia ini banyak sekali sejarah dalam kehidupan kita. Salah satunya sejarah dan ilmu matematika. sejarah dalam bidang matematika ini juga meliputi banyak hal, misalnya saja sejarah perkembangan matematika di suatu daerah, sampai dengan penemuan-penemuan dalam bidang matematika oleh para ahli matematikawan dunia.
sejarah matematika ilmu matematika
berkembang sesuai dengan zamannya. Sebagai contoh, pada tahun 2000 SM
sampai dengan 300 M, telah muncul Ilmu Hitung, Geometri, dan Logika.
Pada 300 M sampai dengan 1400 M telah berkembang teori bilangan, Geometri Analitik, Aljabar, dan Trigonometri. Serta sejarah matematika ilmu sampai abad ke-20 yang melahirkan tentang Logika matematika,Geometri non Euclid, dan lain-lain.
matematika
adalah studi besaran, struktur, ruang, relasi, perubahan, dan beraneka
topik pola, bentuk, dan entitas. Para matematikawan mencari pola dan
dimensi-dimensi kuantitatif lainnya, berkenaan dengan bilangan, ruang,
ilmu pengetahuan alam, komputer, abstraksi imajiner, atau
entitas-entitas lainnya.
Dalam pandangan formalis, ilmu matematika adalah pemeriksaan aksioma yang menegaskan struktur abstrak menggunakan logika simbolik dan notasi matematika;
pandangan lain tergambar dalam filsafat . Para matematikawan merumuskan
konjektur dan kebenaran baru melalui deduksi yang menyeluruh dari
beberapa aksioma dan definisi yang dipilih dan saling bersesuaian.
Terdapat perselisihan tentang apakah objek-objek matematika
hadir secara objektif di alam menurut kemurnian logikanya, atau apakah
objek-objek itu buatan manusia dan terpisah dari kenyataan.
Seorang matematikawan Benjamin Peirce menyebut ilmu matematika
sebagai "ilmu yang menggambarkan simpulan-simpulan yang penting".
Albert Einstein, di pihak lain, menyatakan bahwa "sejauh hukum-hukum matematika merujuk kepada kenyataan, mereka tidaklah pasti; dan sejauh mereka pasti, mereka tidak merujuk kepada kenyataan."
Melalui penggunaan abstraksi dan penalaran logika, ilmu matematika dikembangkan dari pencacahan, penghitungan, pengukuran, dan pengkajian sistematik terhadap bentuk dan gerak objek-objek fisika.
Pengetahuan dan penggunaan matematika
dasar selalu menjadi sifat melekat dan bagian utuh dari kehidupan
individual dan kelompok. Pemurnian gagasan-gagasan dasar dapat diketahui
di dalam naskah-naskah matematika yang bermula di dunia Mesir kuno, Mesopotamia, India, Cina, Yunani, dan Islam.
Argumentasi kaku pertama muncul di dalam matematika
Yunani, terutama di dalam buku Euclid, Unsur-Unsur. Pengembangan
berlanjut di dalam ledakan yang tidak menenteramkan hingga periode
Renaisans pada abad ke-16, ketika pembaharuan matematika berinteraksi dengan penemuan ilmiah baru, mengarah pada percepatan penelitian yang menerus hingga saat ini.
Kini, ilmu matematika
digunakan di seluruh dunia sebagai alat penting di berbagai bidang,
termasuk ilmu pengetahuan alam, rekayasa, medis, dan ilmu pengetahuan
sosial seperti ekonomi, dan psikologi. matematika terapan mengilhami dan membuat penggunaan temuan-temuan matematika baru, dan kadang-kadang mengarah pada pengembangan disiplin-disiplin ilmu yang sepenuhnya baru.
Matematikawan juga bergulat di dalam matematika murni, atau matematika untuk perkembangan matematika itu sendiri, tanpa adanya penerapan didalam pikiran, meskipun penerapan praktis yang menjadi latar munculnya matematika murni ternyata seringkali ditemukan terkemudian.
Secara
umum, semakin kompleks suatu gejala, semakin kompleks pula alat yang
melalui berbagai perumusan (model matematikanya) diharapkan mampu untuk
mendapatkan atau sekadar mendekati penyelesaian eksak
seakurat-akuratnya.
Jadi,
tingkat kesulitan suatu jenis atau cabang ilmu matematika bukan
disebabkan oleh jenis atau cabang matematika itu sendiri, melainkan
disebabkan oleh sulit dan kompleksnya gejala yang penyelesaiannya
diusahakan dicari atau didekati oleh perumusan (model matematikanya)
dengan menggunakan jenis atau cabang matematika tersebut.
Bagaimana dengan versi islam di timur tengah?
Ajaran
Islam mulai bersemi di wilayah Maghrib - Afrika Utara - pada tahun 642
M. Setelah melalui berbagai ekspedisi penaklukan, seluruh wilayah
Maghrib yang meliputi Aljazair, Mesir, Libya, Maroko, Sudan, Tunisia
akhirnya berhasil dikuasai Islam pada awal abad ke-8 M. Sejak itulah, di
wilayah Maghrib mulai menggeliat aktivitas intelektualitas, salah
satunya adalah studi matematika.
Geliat studi matematika yang berkembang di era keemasan Islam di Afrika Utara ternyata hingga kini masih berlangsung. matematika menjadi salah satu ilmu yang digemari masyarakat Afrika Utara. Saat ini, tercatat terdapat 2.000 doktor matematika yang tersebar di Afrika Utara. Sedangkan di Selatan Sahara terdapat 1.000 matematikus bergelar doktor.
Ali
Mostafa Mosharafa tercatat sebagai matematikus Maghrib pertama yang
meraih gelar doktor dari University of London pada tahun 1923. Sebagai
perbandingan, Indonesia hingga kini hanya memiliki 100 dokter matematika. Jumlah doktor matematika itu dihitung mulai dari Dr Sam Ratulangi. Begitu banyaknya doktor matematika yang terdapat di benua 'hitam' itu menunjukkan betapa masih kuatnya pengaruh geliat studi di era keemasan Islam.
Lalu bagaimanakah studi matematika
berkembang pesat di daratan yang dulu termasyhur dengan sebutan Maghrib
itu? Prof Ahmed Djebbar seorang guru besar pada University of Sciences
and Technologies Lille I di Lille, Prancis dalam tulisannya berjudul
Mathematics in the Medieval Maghrib membagi perkembangan matematika di era kejayaan Islam di Afrika Utara ke dalam empat periode.
Periode pertama adalah masa kelahiran dan perkembangan pertama matematika di Maghrib yang berlangsung dari abad ke-9 M hingga 11 M. Periode kedua adalah perkembangan matematika
pada erat kekuasaan Kerajaan Almohad yang berlangsung dari abad ke-12 M
hingga 13 M. Periode ketiga adalah masa lahirnya teori-teori baru matematika di Maghrib pada abad ke-14 M hingga 15 M. Sedangkan, periode keempat adalah perkembangan matematika di Afrika Utara setelah abad ke-15 M.
Menurut Prof Djebbar, lahir dan berkembangnya studi matematika di wilayah Maghrib sangat dipengaruhi perkembangan
keilmuan di Andalusia. ''Secara ekonomi, politik dan budaya Spanyol
Muslim dan Maghrib pada abad pertengahan memiliki keterikatan dan
kedekatan,'' papar ilmuwan yang berkiprah di Laboratoire Paul Painlev,
Prancis itu. Terlebih, Muslim Spanyol dan Maghrib memiliki keterkaitan
tradisi keilmuan.
Meski secara sosial dan budaya Spanyol Muslim dan Maghrib berbeda, namun keduanya direkatkan oleh akidah yang mereka anut yakni Islam. Sejarawan abad ke-11, Said Al-Andalus, memaparkan pada awal Islam masuk ke Spanyol, penduduk negeri itu sama sekali tak tertarik pada sebuah ilmu. Minat masyarakat Spanyol Muslim terhadap keilmuwan mulai tumbuh ketika Dinasti Umayyah berdiri secara independen di negeri Matador itu.
Meski secara sosial dan budaya Spanyol Muslim dan Maghrib berbeda, namun keduanya direkatkan oleh akidah yang mereka anut yakni Islam. Sejarawan abad ke-11, Said Al-Andalus, memaparkan pada awal Islam masuk ke Spanyol, penduduk negeri itu sama sekali tak tertarik pada sebuah ilmu. Minat masyarakat Spanyol Muslim terhadap keilmuwan mulai tumbuh ketika Dinasti Umayyah berdiri secara independen di negeri Matador itu.
Perkembangan dan ghirah (semangat) keilmuwan di Spanyol Muslim itu perlahan namun pasti lalu merambat ke wilayah Maghrib. Studi matematika mulai digandrungi masyarakat Muslim di Afrika Utara sejak abad ke-9 M. Pusat studi matematika pertama terdapat di Ifriqiyan atau lebih tepatnya lagi di Kairouan. Pada era itu geliat studi matematika memang masih terbatas di wilayah itu.
Meski
masih terbatas, di Maghrib telah muncul matematikus terkemuka seperti
Yahya Al-Kharraz dan muridnya Yahya Al-Kanuni (829 M - 901 M). Yahya
tercatat sebagai orang Maghrib yang pertama kali menulis buku berjudul
Hisba - membahas tentang aturan transaksi perdagangan di pasar. Pada era
itu, Maghrib juga memiliki seorang matematikus kondang bernama Shuqrun
Ibn Ali - ahli berhitung dan falak dalam ilmu waris.
Buku matematika
yang ditulis Shuqrun terbilang fenomenal. Sejarawan Ibnu Khair
mengungkapkan buku karya Shuqrun masih tetap dijadikan referensi
pengajaran pada abad ke-12 M di sekolah-sekolah yang tersebar di kota
Bougie - metropolis ilmu pengetahuan Maghrib Tengah. Sedangkan pada abad
ke-9 M, matematikus yang terekam dalam sejarah hanya satu orang, yakni Abu Sahl al-Qayrawani.
Abu
Sahl tergolong matematikus perintis di Maghrib. Dia berhasil menulis
sebuah kitab yang bertajuk Kita-b fi `l-hisab al-hindi (Buku berhitung
India). Di era kekuasaan Dinasti Aghlabid (800 M - 910 M), Kairouan
memainkan peranan penting dalam perkembangan matematika. Sejumlah ilmuwan dari Timur hingga Ifriqiya berdatangan ke kota itu untuk mengembangkan aritmatika dan geometri.
Sepanjang
abad ke-9 M hingga 11 M, wilayah Maghrib telah menjadi metropolis ilmu
pengetahuan. Di era itu, perdagangan buku berkembang pesat, pembiayaan
proyek perbanyakan manuskrip mulai semarak, para ilmuwan mulai
menadapatkan gaji yang tinggi dan sekolah-sekolah mulai dibangun. Hal
itu merupakan salah satu pengaruh eratnya hubungan Kekhalifahan
Abbasiyah di Baghdad dengan Dinasti Aghlabid.
Dinasti
Aghlabid ternyata meniru kebijakan Kekhalifahan Abbasiyah dalam bidang
ilmu pengetahuan. Di wilayah Maghrib pun ternyata di buat lembaga ilmu
pengetahuan yang juga diberi nama Bait Al-Hikmahyang didirikan Sultan
Ibrahim II (875 M - 902 M). Bait Al-Hikmah di Baghdad berdiri lebih awal
yakni ketika Khalifah Harun Ar-Rasyid (786 M - 809 M) memimpin Dinasti
Abbasiyah. Sejak itulah, studi matematika berkembang di wilayah Maghrib.
Memasuki abad ke-10 M, geliat studi matematika di Maghrib kurang terekam dalam sejarah.
Saat itu, tercatat beberapa matematikus seperti Al-Utaq Al-Ifriqi
(wafat 955 M), Ya`qu-b Ibnu Killis (wafat 990 M) dan Al-Huwa-ri- (wafat
1023 M).sejarah kembali merekam secara baik aktivitas matematika di Maghrib pada abad ke-11 M. Ada sederet nama matematikus yang muncul pada era itu.
Ibn
Abi ar-Rijal (wafat 1034-35 M) tercatat sebagai salah seorang
matematikus pada abad itu. Selain itu, juga ada Abu As-Salt (wafat 1134
M). Matematikus lainnya yang mengembangkan matematika di Maghrib
adalah `Abd al-Mun`im al-Kindi- (wafat 1043-44 M), Ibnu `Atiya al-Katib
(wafat 1016 M). Mereka adalah matematikus yang mengembangkan geometri
dan Aritmatika. Begitulah studi matematika berkembang dengan pesat di wilayah Maghrib alias Afrika Utara.
Dari Maghrib untuk matematika
Al-Qurashi
Nama lengkapnya Abu Al-Qasim Al-Qurashi. Dia adalah matematikus kelahiran Seville, Spanyol. Namun, dia mengabdikan separuh hidupnya di Bougie, Afrika Utara sebagai seorang matematikus. Di abad ke-12 - era keemasan Islam di wilayah Maghrib Al-Qurashi terkenal sebagai matematikus yang ahli di bidang Aljabar dan juga pakar ilmu waris.
Dari Maghrib untuk matematika
Al-Qurashi
Nama lengkapnya Abu Al-Qasim Al-Qurashi. Dia adalah matematikus kelahiran Seville, Spanyol. Namun, dia mengabdikan separuh hidupnya di Bougie, Afrika Utara sebagai seorang matematikus. Di abad ke-12 - era keemasan Islam di wilayah Maghrib Al-Qurashi terkenal sebagai matematikus yang ahli di bidang Aljabar dan juga pakar ilmu waris.
Jejak
hidupnya tak banyak diketahui. Yang jelas, Al-Qurashi meninggal di
Bougie pada tahun 1184 M. Meski begitu, kontribusinya dalam pengembangan
Aljabar tertoreh dalam tinta emas sejarah perkembangan matematika
di Afrika Utara. Salah satu pemikirannya yang paling terkenal adalah
komentarnya atas buku yang ditulis matematikus Mesir terkemuka abad
ke-10 M, Abu Kamil.
Buah
pikir Al-Qurashi dalam Aljabar sangat berpengaruh pada sejumlah
matematikus di abad berikutnya, seperti Ibnu Zakariya (wafat 1404 M).
Pemikiran Al-Qurashi juga turut mempengaruhi matematikus Ibn al-Banna-
(wafat 1321 M) untuk menulis Kitab al-'us ul wa-`l-muqaddimat
fi-`l-jabrI [Buku dasar-dasar dan persiapan dalam Aljabar).
Al-Hassar
Shaykh Al-Jama'a ( Pemimpin Masyarakat). Itulah julukan yang diberikan masyarakat Muslim Afrika di era kejayaan kepada matematikus bernama Al-Hassar. Riwayat hidupnya memang tak terekam dalam sejarah. Yang jelas, dia adalah seorang ahli matematika yang mengabdikan dirinya di kota Sebta, Maghrib. Jejak hidupnya hanya terekam dalam dua kitab yang masih tersisa hingga kini.
Shaykh Al-Jama'a ( Pemimpin Masyarakat). Itulah julukan yang diberikan masyarakat Muslim Afrika di era kejayaan kepada matematikus bernama Al-Hassar. Riwayat hidupnya memang tak terekam dalam sejarah. Yang jelas, dia adalah seorang ahli matematika yang mengabdikan dirinya di kota Sebta, Maghrib. Jejak hidupnya hanya terekam dalam dua kitab yang masih tersisa hingga kini.
Pertama
kali dia menulis kitab bertajuk Kitab al-bayan wat-tadhkar. Kitab itu
merupakan semacam buku pegangan tentang penjumlahan angka-angka, operasi
aritmatika terkait bilangan dan pecahan. Buku ini begitu fenomenal,
sehingga menempati peranan yang sangat penting dalam sejarah matematika di Afrika Utara. Buku matematika
kedua yang ditulis Al-Hassar berjudul Al-Kita-b al-kamil fi sina `at
al-`adad (Buku lengkap tentang seni ilmu berhitung). Buku ini adalah
pengembangan dari kitab pertama yang telah ditulisnya. Seperti halnya
Al-Qurashi, buah pikir Al-Hassar juga begitu berpengaruh terhadap
matematikus lainnya di abad-abad berikutnya.
Ibnu Al-Yasamin
Setelah menimba ilmu matematika di Seville, Spanyol, Ibnu Al-Yasamin mengembangkan pengetahuannya di Maghrib. Matematikus terkemuka di Afrika Utara pada abad ke-12 M itu juga sempat mengambil studi di Marrakech alias Maroko - ibu kota Kerajaan Al-Mohad. Ibnu Al-Yasamin merupakan ilmuwan yang berkulit hitam.
Ia terkenal lewat Urjuza fi- l-jabr (Syair tentang Aljabar). Selain itu, dia juga sukses menulis dua puisi lainnya tentang matematika. Namun, ketimbang tiga puisi yang dihasilkannya, kitab Talqi-h al-afkar bi rushum huruf al-ghubr dinilai para ahli sejarah sebagai hasil karya Ibnu Al-Yasamin yang paling penting baik dari sisi kualitas maupun kuantitas.
Kitab yang ditulis Ibnu Al-Yasamin itu tebalnya mencapai 200 halaman. Isinya mengupas tentang ilmu penjumlahan serta geometri. Hasil pemikirannya itu banyak mempengaruhi para ahli matematika Muslim di abad ke-14 M dan 15 M, seperti Ibnu Qunfudh (wafat 1407 M) serta Al-Qalasadi- (wafat 1486 M).
Setelah menimba ilmu matematika di Seville, Spanyol, Ibnu Al-Yasamin mengembangkan pengetahuannya di Maghrib. Matematikus terkemuka di Afrika Utara pada abad ke-12 M itu juga sempat mengambil studi di Marrakech alias Maroko - ibu kota Kerajaan Al-Mohad. Ibnu Al-Yasamin merupakan ilmuwan yang berkulit hitam.
Ia terkenal lewat Urjuza fi- l-jabr (Syair tentang Aljabar). Selain itu, dia juga sukses menulis dua puisi lainnya tentang matematika. Namun, ketimbang tiga puisi yang dihasilkannya, kitab Talqi-h al-afkar bi rushum huruf al-ghubr dinilai para ahli sejarah sebagai hasil karya Ibnu Al-Yasamin yang paling penting baik dari sisi kualitas maupun kuantitas.
Kitab yang ditulis Ibnu Al-Yasamin itu tebalnya mencapai 200 halaman. Isinya mengupas tentang ilmu penjumlahan serta geometri. Hasil pemikirannya itu banyak mempengaruhi para ahli matematika Muslim di abad ke-14 M dan 15 M, seperti Ibnu Qunfudh (wafat 1407 M) serta Al-Qalasadi- (wafat 1486 M).
Ibnu Mun`im
Sejatinya Ahmad Ibnu Mun`im terlahir di Denia - pantai barat Spanyol dekat Valencia. Namun, dia menghabiskan sebagian besar hidupnya di Marrakech/ Maroko. Ibnu Mun'im dikenal sebagai spesialis terbaik dalam Geometri dan Teori Ilmu Hitung. Ibnu Mun'im sebenarnya adalah seorang dokter. Namun, dia lebih banyak mengisi waktunya dengan mengembangkan matematika.
Dalam bidang matematika, Ibnu Mun`im telah berhasil mempublikasikan sederet hasil karyanya. Di antra beragam masalah yang dikaji Ibnu Mun'im antara lain; geometri Euclid, penjumlahan, teori ilmu hitung serta pembuatan segi empat besar. Salah satu karyanya yang masih tetap survive hingga kini adalah Fiqh al-hisab (Ilmu Penjumlahan). Uniknya, judul kitab yang ditulisnya tak mencerminkan keberagaman dan kekayaan dari isi bukunya
Sejatinya Ahmad Ibnu Mun`im terlahir di Denia - pantai barat Spanyol dekat Valencia. Namun, dia menghabiskan sebagian besar hidupnya di Marrakech/ Maroko. Ibnu Mun'im dikenal sebagai spesialis terbaik dalam Geometri dan Teori Ilmu Hitung. Ibnu Mun'im sebenarnya adalah seorang dokter. Namun, dia lebih banyak mengisi waktunya dengan mengembangkan matematika.
Dalam bidang matematika, Ibnu Mun`im telah berhasil mempublikasikan sederet hasil karyanya. Di antra beragam masalah yang dikaji Ibnu Mun'im antara lain; geometri Euclid, penjumlahan, teori ilmu hitung serta pembuatan segi empat besar. Salah satu karyanya yang masih tetap survive hingga kini adalah Fiqh al-hisab (Ilmu Penjumlahan). Uniknya, judul kitab yang ditulisnya tak mencerminkan keberagaman dan kekayaan dari isi bukunya
PEMBELAJARAN SECARA KONTEKSTUAL
Ditulis oleh:
Kulanz Salleh
on
Monday, February 01, 2010
Pengenalan
Menurut
John Dewey (1916), pembelajaran kontekstual merupakan satu keadaan di
mana pelajar akan belajar dengan baik jika apa yang dipelajari berkaitan
dengan apa yang berlaku di persekitaran. Pembelajaran ini menekankan
pada daya fikir yang tinggi, pemindahan ilmu pengetahuan, pengumpulan
dan penganalisis data, pemecahkan masalah-masalah tertentu samada secara
individu atau berkumpulan. Kontekstual dari ayat asalnya dalam Bahasa
Inggeris (asal bahasa Latin con = with + textum = woven) bermaksud
mengikut konteks atau dalam konteks. Konteks pula membawa maksud
keadaan, situasi dan kejadian.
Pembelajaran konteksual
merupakan satu model dinamik dan terbuka. Strategi ini dapat memastikan
pelajar disediakan peluang untuk menjadikan pembelajaran bermakna
melalui pengalaman dan informasi, dan menggunakan pengalaman serta
informasi demi membina pengetahuan sendiri. Kaedah kontekstual adalah
berasaskan maksud kontekstual itu sendiri, di mana ia mampu membawa
pelajar ke matlamat pembelajaran isi dan konsep yang berkenaan.
Ringkasnya, pembelajaran kontekstualisme ialah satu kaedah pembelajaran
yang menggabungkan isi kandungan dengan pengalaman harian, individu,
masyarakat dan alam pekerjaan. Pembelajaran jenis ini menyediakan
pembelajaran secara konkrit yang melibatkan aktiviti ‘hands-on’ dan
‘minds-on’.
Kepentingan Pembelajaran Kontekstual Dalam Pengajaran dan Pembelajaran
Pendekatan
pengajaran ini mempunyai banyak kepentingan dan faedahnya. Ini
termasuklah faedah kepada murid dan faedah kepada guru sendiri.
Pendekatan kontekstual adalah satu proses yang melibatkan pelbagai
bentuk penemuan yang bersifat kompleks yang menjangkau kaedah-kaedah
jenis latih tubi dan rangsangan dan tindak balas. Konsep pengajaran ini
lebih menumpukan kepada pembelajaran yang bercirikan penemuan dan
pencarian. Ia akan mendorong murid-murid mencari hubungan dan cara
penyelesaian berdasarkan persekitarannya.
Pendekatan kontekstual juga
merupakan pendekatan yang menekankan dunia kehidupan sebenar
murid-murid. Ini bermakna, pembelajaran adalah berkisar kepada konteks
kehidupan sebenar dan cara ini sudah tentu akan lebih mudah memberi
kefahaman kepada murid-murid tentang konsep-konsep berkaitan. Selain
itu, pembelajaran ini juga boleh dilaksanakan secara koperatif dan
melibatkan penggunaan bahasa. Pembelajaran sebagai aktiviti sosial ini
amat menggalakkan interaksi dan perbincangan sesama murid atau antara
murid dan guru. Dengan cara ini proses pembelajaran murid akan berlaku
dengan lebih mudah. Ini sudah tentu dapat memastikan objektif pelajaran
yang telah ditetapkan dalam perancangan pelajaran ini dapat dicapai
dalam sesi praktik yang akan dilaksanakan nanti.
Bagi guru pula, pendekatan
pengajaran ini sudah tentu menggalakkan mereka memilih dan membina
persekitaran pembelajaran yang menggabungkan pengalaman-pengalaman yang
mereka lalui seberapa banyak yang boleh. Pengalaman-pengalaman yang
dilalui termasuklah dari aspek sosial, fizikal, psikologikal, ke arah
mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Berdasarkan persekitaran
sedemikian, pelajar menemui perhubungan yang bermakna antara idea
abstrak dan aplikasi praktikal dalam konteks alam yang nyata.
Penghayatan konsep diperoleh melalui proses penemuan, pengukuhan dan
menghubungkaitkan.
Proses “REACT” Dalam Pembelajaran Secara Kontekstual
Terdapat
satu kaedah pengajaran yang sangat sesuai diaplikasikan dalam
pengajaran kontekstual. Kaedah pengajaran itu melibatkan lima
proses/aktiviti, iaitu menghubungkait, mengalami, mengaplikasi,
bekerjasama, dan memindahkan. Kelima-lima aktiviti ini diringkaskan
sebagai “REACT”.
a) Menghubungkait (Relating):
Aktiviti
ini melibatkan proses di mana pelajar menghubungkaitkan pengetahuan
baru dengan pengalaman hidup mereka sendiri. Dalam pembelajaran
kontekstual, pelajar akan dapat menumpukan perhatian kepada taakulan,
peristiwa dan keadaan harian. Kemudiannya, taakulan, peristiwa dan
keadaan harian itu dipautkan dengan maklumat baru untuk penyelesaian
sesuatu masalah. Contoh semasa di sekolah, pelajar belajar tentang
cara-cara menjaga kebersihan. Semasa pembelajaran tersebut, pelajar
mungkin dapat mengaitkan pengalaman mereka semasa di rumah, di mana
pelajar sering diberitahu oleh ibu bapa supaya membasuh tangan sebelum
makan. Menerusi pengalaman ini pelajar akan dapat mengaitkan aktiviti
yang dilakukan oleh mereka di rumah dengan aktiviti pembelajaran yang
sedang berlangsung.
b) Mengalami (Experiencing):
Semasa
pembelajaran, pelajar akan sedaya upaya menimba pengalaman melalui
aktviiti eksplorasi, penemuan dan reka cipta merupakan nadi pembelajaran
konteksual. Penggunaan bahan pengajaran dan pembelajaran seperti video,
naratif, atau aktiviti berasaskan teks, akan dapat membantu pelajar
mengalami sesuatu perkara atau peristiwa yang dipelajari. Contohnya
pelajar dibawa ke bilik tayangan untuk menyaksikan demonstrasi serta
membuat latihan amali merawat kecederaan semasa bermain. Pengalaman ini
boleh digunakan semasa mereka berhadapan dengan situasi sebenar di luar
bilik darjah.
c) Mengaplikasi (Applying):
Ia
melibatkan proses mengaplikasi konsep dan informasi dalam konteks untuk
digunakan dalam situasi yang lain. Dalam pembelajaran Pendidikan
Kesihatan misalnya, proses aplikasi ini boleh dilakukan dengan memberi
peluang kepada pelajar mengalami sendiri situasi atau perkara sebenar
berdasarkan konteks yang dipelajari. Contohnya, guru mungkin boleh
membawa pelajar melawat kantin sekolah dan melihat sendiri cara
mengendalikan makanan dengan betul. Setelah itu, mereka akan diberikan
peluang melakukan latihan praktikal di bilik kemahiran hidup sekolah.
Pengalaman ini sudah tentu akan dapat diaplikasikan pula semasa mereka
berada di rumah kelak.
d) Bekerjasama (Cooperating):
Pembelajaran
dalam konteks berkongsi, bertindak balas, dan komunikasi dengan pelajar
lain. Ia merupakan satu proses penting dalam pengajaran dan
pembelajaran konteksual. Semasa proses pengajaran dan pembelajaran,
pelajar digalakkan bekerjasama dalam pelbagai peringkat kumpulan untuk
memberikan pengalaman kepada mereka. Contohnya pelajar bekerja dengan
ahli kumpulan untuk melakukan amali makmal. Penyelesaian amali makmal
memerlukan delegasi, pemerhatian, cadangan dan perbincangan.
e) Memindahkan (Transferring):
Pembelajaran
sesuatu isi dalam konteks pengetahuan yang sedia ada, atau
memindahkannya adalah berlandaskan apa yang telah diketahui pelajar.
Pendekatan ini menyerupai RELATING iaitu ia berasaskan perkara-perkara
yang lazim dan diketahui. Guru boleh membantu meningkatkan keyakinan
pelajar dengan menyediakan panduan yang dapat menghubungkan pengalaman
pembelajaran baru dengan apa yang telah diketahui pelajar. Contoh
pelajar mempelajari cara untuk memilih menu sarapan yang sesuai. Pelajar
boleh memindahkan pengetahuan mereka itu dalam memilih dan menetapkan
menu sarapan mereka setiap hari semasa berada di rumah.
Penutup
Pembelajaran
secara kontekstual atau melalui pengalaman sebenar merupakan antara
kaedah yang paling berkesan untuk memahami sesuatu konsep. Ini kerana
murid pada umumnya telah mempunyai serta membentuk idea mereka sendiri
mengenai suatu perkara atau fenomena yang berlaku di sekeliling mereka
berdasarkan pengalaman yang pernah dialami. Idea mereka mungkin betul,
mungkin tidak tetapi isu yang penting di sini ialah seseorang guru harus
mampu menggunakan kekuatan yang ada pada murid untuk membantu mereka
belajar dengan lebih berkesan. Jadi dalam soalan pengajaran Pendidikan
Kesihatan, murid harus diberi peluang belajar memahami sesuatu perkara
melalui pengalaman sendiri. Setelah mengalami sesuatu perkara itu,
mereka akan dapat membuat rumusan apakah tindakan ke arah kebaikan yang
patut mereka ambil.
TEORI PEMBELAJARAN KOGNITIF BRUNER
Seymour Jerome Bruner
Beliau
dilahirkan di New York pada 1 Oktober 1915.Beliau lebih dikenali
sebagai J.Bruner. Beliau ini merupakan bapa kepada teori psikologi
kognitif. Beliau merupakan seorang yang istimewa kerana telah dilahirkan
buta dan tidak dapat melihat setelah dijangkiti katarak sewaktu beliau
masih bayi.
PENDIDIKAN
Pada
mulanya, Bruner bersekolah di sekolah umum. Pada tahun 1933 beliau
lulus dari sekolah tinggi. Setelah itu, beliau melanjutkan pelajaran ke
Duke University. Disana beliau mengambil jurusan psikologi. Pada tahun
1937 beliau mendapat gelaran AB. Bruner kemudian mengejar kajian
pascasarjana di Harvard University, menerima MA pada 1939 dan Ph.D. pada
tahun 1941. Semasa Perang Dunia II, beliau berkhidmat di bawah Jeneral
Eisenhower di Perang Psikologis Divisi Markas Tertinggi Bersekutu
Expeditionary Force Eropah. Beliau memainkan peranan yang penting dalam
perancangan Projek Medison, suatu kurikulum matematik moden di Amerika
Syarikat.
PENCAPAIAN
Sebagai
seorang tokoh kognitif yang berjaya, beliau telah menerima banyak
pencapaian. Antaranya adalah, BA, Duke University, 1937, PhD, Harvard,
1941 (psikologi), Profesor psikologi di Harvard (1952-1972), Profesor
psikologi di Oxford (1972-1980), CIBA Pingat Emas, 1974, untuk "kajian
khas dan asli", Balzan Prize pada tahun 1987 untuk "sumbangan untuk
memahami fikiran manusia" serta Fellow, American Academy of Arts and
Sciences.
MAKLUMAT TEORI
Beliau
banyak menghasilkan penulisan dalam bidang falsafah
pendidikan,teori-teori pembelajaran, dan proses pengajaran. salah satu
hasil penulisannya yang terkenal adalah The Process of Education. Buku
ini telah menjadi bahan rujukan yang penting dalam menggubal kurikulum
matematik moden di kebanyakkan negara.
BELAJAR
Belajar
merupakan kategori yang terjadi untuk memudahkan interaksi dengan
realiti. selain itu, belajar turut memudahkan tindakan. Hal ini berkait
rapat dengan proses seperti pemilihan maklumat, generasi proposal,
fasilitasi, proses membuat keputusan dan pembinaan dan ujian hipotesis.
Murid yang belajar berinteraksi dengan realiti akan dapat menetapkan
kemasukkan yang sesuai dengan kategori mereka sendiri.Hal ini kerana
mereka akan menentukan kategori konsep yang berbeza.
Belajar
adalah sebuah proses aktif dari persatuan dan pembinaan. Selain
daripada itu, pengetahuab sedia ada murid juga merupakan faktor penting
dalam belajar. Ini memberi makna kepada organisma untuk menimba
pengalaman dan membolehkannya untuk membentuk suatu media seperti
peraturan ini:
1) menentukan sifat-sifat penting dari para ahlinya, termasuk komponen esensialnya.
2) menggambarkan bagaimana mereka harus diintegrasikan komponen penting.
3) menentukan batas-batas toleransi atribut yang lain untuk ahli termasuk ke kategori.
Bruner membezakan dua proses yang berkaitan dengan kategori:
a)Pembentukan konsep (mempelajari konsep yang berbeza)
b)Konsep Tingkat (mengenalpasti sifat yang menentukan kategori).
a)Pembentukan konsep (mempelajari konsep yang berbeza)
b)Konsep Tingkat (mengenalpasti sifat yang menentukan kategori).
Bruner
berpendapat bahawa pembentukan konsep merupakan proses yang terjadi
lebih semua daripada konsep pada orang 0-14 tahun, sementara konsep
konsep Tingkat pembentukan berlaku bukan dari usia 15 tahun.
Konsep boleh di bahagikan kepada tiga kategori iaitu:
· Konsep konjuntif
Kosep
ini merujuk kepada konsep yang mempunyai beberapa bahagian yang
tergabung dan tidak boleh dipisahkan ataupun dikurangkan. Apabila salah
satu bahagian ini diketepikan, maka, konsep tersebut menjadi kurang
lengkap.
· Konsep disjuntif
Konsep
ini pula merujuk kepada bahagian-bahagian yang tergabung di dalam
konsep ini boleh digunakan dalam satu situasi ataupun situasi yang
lain.
· Konsep hubungan
Konsep
ini merujuk kepada kepada hubungan khas antara satu sama lain yang
wujud diantara bahagian-bahagian tersebut. Kebanyakkan hubungan ini
biasanaya terdiri daripada bahagian-bahagian yang mengandungi masa dan
ruang.
Selain
itu Bruner berpendapat, fungsi konsep utama adalah menyusun maklumat
kepada sifat-sifat umum bagi sesuatu kumpulan objek atau idea, dengan
bertujuan memudahkan pengurusan agar lebih ringkas, mudah difahami,
mempelajari serta mengingati. Menurut beliau lagi, bahasa merupakan
medium yang penting dalam perkembangan kognitif manusia. Beliau
mempercayai manusia mula menggunakan tindakan sebagai usaha memahami
alam sekitar, dan apabila tindakan tidak mencukupi, ia akan bertukar
kepada penggunaan gamabar atau perwakilan simbol di mana bahasa
memainkan peranan.
ASPEK TEORI PEMBELAJARAN
Bruner berpendapat bahawa empat aspek berikut merupakan aspek yang penting dalam teori Arahan:
1) kecenderungan terhadap pembelajaran
2)bagaimana pengetahuan boleh ditetapkan sehingga yang terbaik untuk diinternalisasi oleh pelajar
3) urutan paling efektif dalam menyajikan bahan bantu mengajar
4) Sifat dari hadiah dan ganjaran.
IMPLIKASI TERHADAP PENGAJARAN DAN PEMBELAJARAN
Berikut adalah implikasi dari teori Bruner dalam pendidikan:
1) Teorem pembelajaran Matematik
Bruner
dan Kenny (pembantunya) telah membuat pemerhatian di dalam kelas
Matematik bagi mengkaji faktor-faktor yang terlibat dalam teori ini.
Hasilnya mereka telah Berjaya membina empat teorem pembelajaran seperti
berikut:
· Teorem Pembinaan
Merupakan
cara paling berkesan bagi seorang pelajar untuk mempelajari konsep,
prinsip atau hukum matematik. Caranya adalah dengan membina perwakilan
untuk konsep, prinsip mahupun hukum Matematik tersebut. Para pelajar
perlulah menjalankan sendiri aktiviti-aktiviti konkrit agar mereka lebih
memahami.
· Teorem Tatatanda
Tatatanda
Matematik ini perlulah mengikut tahap perkembangan kognitif pelajar itu
sendiri. Ianya perlulah bermula dari mudah ke sukar mengikut tahap
pemikiran pelajar pada waktu itu.
· Teorem Kontras dan Variasi
Operasi
ini terjadi apabila terdapat prosedur perkenalan perwakilan abstrak
daripada perwakilan konkrit. Konsep Matematik kebanyakkannya tidak
memberikan makna kepada pelajar jika mereka tidak dapat membezakan
konsep yang lain. Konsep nombor ganjil dan nombor genap perlu dijelaskan
dengan membandingkan sifat-sifat yang berbeza dalam kedua-dua jenis
nombor tersebut.
· Teorem Perhubungan
Konsep,
prinsip dan kemahiran Matematik adalah saling berkaitan dengan
kemahiran yang lain. Di dalam proses pembelajaran, guru perlu bijak
mengaitkan konsep-konsep, prinsip-prinsip atau kemahiran yang baru
kepada pelajar.
2) Strategi pengajaran dan pembelajaran Matematik
Seseorang
murid belajar dengan cara menemui struktur konsep-konsep yang
dipelajari. Oleh yang demikian, Bruner berpendapat kanak-kanak membentuk
konsep dengan mengasingkan benda-benda mengikut ciri-ciri persamaan dan
perbezaan. Selain itu, pengajaran adalah berdasarkan rangsangan murid
tersebut terhadap pengetahuan sedia ada mereka. Beliau turut mengatakan
bahawa pembelajaran Matematik akan menjadi lebih mudah dengan penggunaan
symbol untuk mewakili konsep-konsep yang berbentuk abstrak.
3) Prinsip-prinsip pengajaran-pembelajaran
Melalui
buku tulisan Bruner (1966) yang berjudul Toward a Theory of
Instruction, beliau menghuraikan empat prinsip pengajaran-pembelajaran
berlandaskan teori yang dikemukakan oleh beliau sendiri.
· Prinsip motivasi
Bruner
mempercayai bahawa kanak-kanak yang baru masuk sekolah mempunyai dua
jenis motivasi diri, iaitu intrinsik ingin tahu dan dorongan mencapai
kecekapan. Intrinsik ingin tahu adalah satu motivasi yang mendorong
minat kanak-kanak terhadap benda di sekeliling mereka. Manakala,
dorongan untuk mencapai kecekapan diri adalah aktiviti yang menggerakkan
mereka untuk mencuba secara rela hati dengan menyempurnakannya sendiri
disamping saling bersaing sesame mereka.
· Prinsip struktur
Prinsip
struktur memberikeutamaan terhadap isi pelajaran yang sesuai dengan
bentuk pengajaran, dan apa jenis bentuk pengajaran yang sesuai digunakan
kepada murid itu sendiri. Bruner mencadangkan, penggunaan prinsip
pengajaran daripada konkrit kepada abstrak.
· Prinsip sekuen
Mengikut
Bruner, prinsip ini boleh dibahagikan kepada dua, iaitu prinsip sekuen
yang pertama (prinsip kesediaan). Di mana pada peringkat ini guru perlu
menggunakan set induksi untuk menimbulkan motivasi yang berterusan
kepada murid agar aktiviti pembelajaran akan menjadi lebih mudah dan
berkesan. Prinsip seterusnya adalah prinsip sekuen yang kedua. Prinsip
ini adalah penggunaan dan perlaksanaan kaedah dan teknik mengajar.
Kaedah dan teknik mengajar perlulah seimbang dengan perkembangan
kognitif murid pada waktu itu. Secara tidak langsung, ianya dapat
mempertingkatkan daya keupayaan mental kanak-kanak. Prinsip sekuen ini
dapat menghubungkaitkan pengalaman baru dengan pengalaman lama serta
keberkesanan pembelajaran dapat ditingkatkan.
· Prinsip peneguhan
Bruner
mencadangkan penggunaan kaedah inkuiri-penemuan sebagai strategi
pengajaran-pembelajaran untuk member kesempatan kepada kanak-kanak
membuat kajian sendiri, agar mereka akan memperolehi kepuasan daripada
dapatan kajiannya, demi menghasilkan peneguhan positif yang diharapkan.
4) Pembelajaran inkuiri-penemuan (Discovery Learning)
Kaedah
ini digunakan untuk aktiviti pengajaran dan pembelajaran di peringkat
sekolah. Sehubungan dengan itu, guru perlulah mengatur situasi
pembelajaran untuk pelajar mereka dalam mengenal pasti masalah yang
ditimbulkan, memahami dan menganalisisnya serta berusaha mencari
alternatif jawapan sendiri.
5) Pembelajaran konsep hukum dan prinsip melalui pendekatan induktif
Pendekatan
induktif melibatkan aktiviti mengumpul dan mentafsir maklumat, kemudian
membuat generalisasi atau kesimpulan. Penggunaan kaedah ini memerlukan
guru memberikan beberapa contoh yang khusus tetapi mengandungi satu
prinsip yang sama. Melalui contoh-contoh inilah, murid dibimbing
memikir, mengkaji, mengenal pasti dan mentafsir maklumat yang terkandung
di dalam contoh-contoh tersebut. Sejerus itu, mereka mampu membuat
kesimpulan sendiri mengenai topik tersebut.
ANALISIS SWOT
Dalam
menilai kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman sesuatu teori adalah
dengan menggunakan analisis SWOT. Analisis SWOT adalah sebuah kaedah
perancangan strategik yang digunakan untuk menilai Kekuatan, Kelemahan,
Peluang, dan Ancaman yang terlibat secara langsung atau tidak langsung
di dalam sesuatu teori yang dikemukakan. Analisis ini adalah bertujuan
untuk mengenalpasti faktor-faktor dalaman dan luaran yang menguntungkan
dan tidak menguntungkan untuk mencapai tujuan tersebut.
Analisis
Swot juga telah dijalankan ke atas teori Burner. melalui analisis ini
di dapati teori ini turut mempunyai kekuatan, kelemahan, peluang dan
ancaman yang tersendiri. kekuatan yang jelas dapt dilihat dalam teori
ini adalah ianya lebih berpusatkan kepada murid. Di mana teori ini
memerlukan murid berfikir secara kritikal dalam menerima proses
pengajaran dan pembelajaran. Selain daripada itu, ianya dapat membantu
murid-murid untuk melihat dari pelbagai perspektif yang berbeza, murid
dapat menganalisis perbezaan dan persamaan yang telah dipelajari.
Setelah
mengkaji tentang kekuatan, mari lihat pula kelemahan yang tdrdapat
dalam teori ini. kelemhan yang jelas dapat dikenal pasti adalah murid
hanya akan mengunakan kehendak dan emosi dalam memastikan mereka
mencapai objektif pelajaran tersebut. Namun begitu, sekiranya dilihat
dari segi peluang, murid-murid akan belajar mempunyai pendirian dan
keyakinan pada diri sendiri. Selain, ianya tidak menyekat pengetahuan
murid tersebut. Ancaman yang mungkin dihadapi melaui teori ini adalah,
apabila tenaga pengajar melebih-lebihkan murid yang lebih menonjol
berbanding murid-murid yang lain. Maka, tanpa disedari wujud satu
suasana bias di kalangan murid-murid.
Setelah
mengkaji tentang kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang terdapat
di dalam teori ini, satu kesimpulan dapat dibuat dimana guru perlu
memainkan peranan yang penting di dalam menjalankan aktiviti
pembelajaran.
Posted by
syufaal
at
12:00 PM
Langganan:
Postingan (Atom)
